dodyrusdiansyah11u's blog

by on May.13, 2013, under Uncategorized

Proses Komunikasi dan Partisipasi dalam Pembangunan Masyarakat Desa

bantaran sungai

Oleh: Sri Wahyuni

Partisipasi masyarakat dalam Program Raksa Desa di Kecamatan Ciampea sangat ditentukan oleh proses komunikasi yang terjadi dalam program tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menjawab masalah penelitian berikut: (1) seberapa jauh telah terjadi partisipasi masyarakat dalam program Raksa Desa dan faktor mana yang cenderung menentukan tingkat partisipasi tersebut, (2) seberapa tepat/efektifkah pola intervensi program Raksa Desa dalam mengembangkan partisipasi melalui proses komunikasi, dan (3) bagaimana meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program Raksa Desa melalui upaya komunikasi yang tepat. Penelitian ini dilaksanakan pada tiga desa di kecamatan Ciampea Bogor, yakni desa Bojong Jengkol, Cinangka, dan Cibanteng. Penelitian ini menggunakan metode survai eksplanasi. Penentuan desa dan kelompok dilakukan secara purposive dan pengambilan sampel secara acak sederhana. Jumlah sampel 74 responden yang memperoleh bantuan program Raksa Desa tahap pertama Tahun 2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; pertama, karakteristik responden pada tiga desa memiliki pendidikan yang rendah, pengalaman usaha rendah, dan pendapatan yang rendah; kedua, pola intervensi pemerintah masih tinggi; ketiga, proses komunikasi yang terjadi masih top down ; prasyarat partisipasi yang terdiri atas kesempatan, kemampuan dan kemaua n masih rendah; dan kelima, partisipasi anggota dalam program Raksa Desa masih rendah. Pola intervensi yang cenderung melalui proses komunikasi linear (searah) cenderung tidak efektif mengembangkan prasyarat partisipasi (kesempatan, kemampuan dan kemauan) warga dalam program Raksa Desa. Akibatnya partisipasi masyarakat rendah, karena program tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program Raksa Desa perlu ditempuh melalui proses komunikasi yang lebih interaktif dan konvergen. Berdasarkan hasil penelitian disarankan, pemerintah perlu menetapkan pendekatan partisipatif yang bertumpu pada kelompok masyarakat, dan perlu merubah paradigma komunikasi top-down ke bottom-up.

Leave a Comment more...

by on May.13, 2013, under Uncategorized

Keberdayaan dan Strategi Pelaksanaan Penyuluhan Masyarakat Nelayan Kota Bengkulu

Posted by PPN IPB on August 9, 2012 in Disertasi · 0 Comments

Pembangunan masih belum mampu meningkatkan secara nyata kehidupan
nelayan yang secara turun temurun telah menjadikan usaha menangkap ikan di laut sebagai mata pencaharian utama untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Keberdayaan masyarakat nelayan masih rendah, hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya kapasitas diri nelayan yang dicirikan dengan rendahnya penghasilan yang diperoleh dari hasil usaha menangkap ikan di laut, sehingga rendah juga kemampuan nelayan memenuhi berbagai kebutuhan hidup, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya.

Kapasitas diri masyarakat nelayan terlihat dari rendahnya tingkat pengetahuan, sikap serta keterampilan para nelayan dalam memberikan kontribusi terhadap proses peningkatan kehidupan sosial ekonomi mereka dan juga peran pemerintah daerah yang masih kurang dalam memberikan lingkungan usaha yang kondusif bagi masyarakat nelayan, seperti ketersediaan sarana dan prasarana fisik maupun modal merupakan penyebab dari berbagai kondisi kehidupan masyarakat nelayan sekarang ini. Dampak dari semuanya ini adalah rendahnya produksi yang mampu di hasilkan oleh nelayan guna mencukupi kebutuhan hidup mereka. Dengan kondisi yang demikian menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat nelayan masih jauh dari indikator kesejahteraan atau dikatakan termasuk golongan masyarakat miskin.

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi keberdayaan masyarakat
nelayan Kota Bengkulu; (2) menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberdayaan masyarakat nelayan Kota Bengkulu; dan (3) menetapkan strategi pelaksanaan penyuluhan dalam pemberdayaan masyarakat nelayan Kota Bengkulu. Unit analisis adalah masyarakat nelayan Kota Bengkulu. Ukuran populasi adalah 811 nelayan. Sampel diambil secara proporsional random sampling dari populasi, ukurannya ditentukan dengan rumus Slovin pada α = 0.05, berjumlah 150 nelayan.

Data utama dikumpulkan dari responden dengan menggunakan kuisioner, dilanjutkan dengan diskusi fokus grup dan wawancara mendalam terhadap nelayan, dan para informan, yaitu: pemuka masyarakat, dinas terkait, pengurus kelompok, pengurus koperasi, dan pengurus organisasi profesi. Pendekatan analisis yang digunakan adalah deskriptif, secara kuantitatif maupun kualitatif, selanjutnya dilakukan uji statistik korelasi, regresi, uji beda dan analisis SEM. Jenis data yang digunakan dalam penelitian
adalah data primer dan data sekunder.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keberdayaan masyarakat nelayan Kota Bengkulu masih tergolong rendah; (2) Karakterisitik internal nelayan memiliki hubungan dan pengaruh yang nyata terhadap kapasitas diri nelayan, karakteristik eksternal nelayan memiliki hubungan dan pengaruh yang nyata terhadap kapasitas diri nelayan, dan kapasitas diri nelayan memiliki hubungan dan pengaruh yang nyata terhadap tingkat keberdayaan nelayan; dan (3) strategi pelaksanaan penyuluhan dalam pemberdayaan masyarakat pesisir nelayan Kota Bengkulu diarahkan kepada penguatan faktor karakteristik internal dengan melakukan pelaksanaan penyuluhan dengan metode pembelajaran nonformal.

Leave a Comment more...

Definisi, Konsep dan Kerangka Analisis Gender

by on May.13, 2013, under Uncategorized

Definisi, Konsep dan Kerangka Analisis Gender

Menurut Vitayala (2010), gender adalah suatu konsep yang menunjuk pada suatu sistem peranan dan hubungannya antara perempuan dan lelaki yang tidak ditentukan oleh perbedaan biologi, akan tetapi ditentukan oleh lingkungan sosial, politik, dan ekonomi. WHO (2012) mendefinisikan gender adalah seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi  laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksikan secara sosial  dalam suatu masyarakat.

Referensi:

Leave a Comment more...

Tipe Pembaruan Agraria Berbasis Rakyat

by on May.13, 2013, under Uncategorized

Tipe Pembaruan Agraria Berbasis Rakyat

Sitorus (2004) menjelaskan bahwa ada 3 (tiga) tipe pembaruan agraria berbasiskan rakyat menurut aktor utama penggeraknya. Pertama,  aneksasi yakni merujuk pada tindakan kolektif penduduk untuk secara paksa membuka, bercocok tanam, dan sekaligus bermukim di sebidang tanah hutan negara atau tanah perkebunan milik perusahaan negara atau swasta. Contohnya di Garut (Dangiang dan Sukatani), Ciamis (Pasawahan II), Tasikmalaya (Sindang Asih), Kendal (Trisobo). Kedua, integrasi yakni merujuk pada kolaborasi negara dan komunitas lokal. Misalnya, adanya kesepakatan konservasi masyarakat dalam konteks manajemen taman nasional, atau berupa pengakuan negara atas klaim yang dibuat oleh penduduk. Contohnya Ciamis (Banjar Anyar). Ketigakultivasi merujuk pada ambiguitas status tanah yang direklaim: di satu sisi ia secara faktual diusahakan oleh penduduk, tetapi secara formal masih diklaim dan dikelola sebagai bagian dari areal tanah milik penguasa tradisional.

Leave a Comment more...

Pengertian Stratifikasi Sosial dan Ukurannya

by on May.13, 2013, under Uncategorized

Pengertian Stratifikasi Sosial dan Ukurannya

Stratifikasi sosial merupakan penggolongan kelompok masyarakat dalam berbagai lapisan-lapisan tertentu. Menurut etimologi bahasa, stratifikasi berasal dari bahasa Yunani yakni stratum, yang berarti lapisan. Pitirim A. Sorokin, mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam lapisan kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis) dengan perwujudannya adalah kelas tinggi dan kelas yang lebih rendah (Soekanto 1990).

Ukuran yang biasa dipakai untuk menggolong-golongkan anggota masyarakat ke dalam suatu lapisan adalah sebagai berikut:

  1. Ukuran kekayaan. Barangsiapa yang memiliki kekayaan paling banyak, termasuk ke dalam lapisan atas. Kekayaan tersebut, misalnya, dapat dilihat pada bentuk rumah yang bersangkutan, kendaraan, cara-cara menggunakan pakaian serta bahan pakaian yang dipakai, kebiasaan untuk berbelanja barang-barang mahal dan seterusnya.
  2. Ukuran kekuasaan. Barangsiapa yang memiliki kekuasaan atau yang mempunyai wewenang terbesar, menempati lapisan atas.
  3. Ukuran kehormatan. Ukuran kehormatan tersebut mungkin terlepas dari ukuran-ukuran kekayaan dan/atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati, mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini, masih banyak dijumpai pada masyarakatmasyarakat tradisional. Biasanya mereka adalah golongan tua atau mereka yang pernah berjasa.
  4. Ukuran ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan sebagai ukuran, dipakai oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat negatif. Karena ternyata bahwa bukan mutu ilmu pengetahuan yang dijadikan ukuran, akan tetapi gelar kesarjanaannya. Sudah tentu hal demikian memacu segala macam usaha untuk mendapatkan gelar, walau tidak halal.
Leave a Comment more...

PERAN KPI (KOMISI PENYIARAN INDONESIA) TERHADAP PENGAWASAN PROGRAM TELEVISI REMAJA

by on May.13, 2013, under Uncategorized

Makalah Akhir

Mata Kuliah Berpikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200)

PERAN KPI (KOMISI PENYIARAN INDONESIA)

 TERHADAP PENGAWASAN PROGRAM TELEVISI REMAJA

 

 

Oleh:

Dody Rusdiansyah (I34110129)

 

 

 

Dosen:

Dr.Ir. Ekawati S. Wahyuni

Ratri Virianita, S.Sos, M.Si.

 

 

Assisten Praktikum:

Siska Oktavia (I34090085)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT

FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

 

 

ABSTRACT

 

Advances in science and technology make communication media especially television becomes more advanced. Information and news can be more quickly reported to the public. But along with that, show-quality broadcast program was sometimes away from moral values ​​and religion, and much of the value of education. Impressions of violence, hedonism, freedom, and sexuality is often present in television, and that not correspond with the children and adolescents. The impact of violence on the television show will affect the attitudes and behavior of children and adolescents. KPI (Indonesia Broadcasting Commission) was formed to conduct surveillance and sanctions against television stations that break the rules applicable in the field of broadcasting.

 

Keywords: broadcasting

 

ABSTRAK

 

            Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi membuat media komunikasi terutama televisi menjadi lebih maju. Informasi dan berita pun dapat lebih cepat dilaporkan kepada khalayak umum, yaitu masyarakat. Namun seiring dengan itu, kualitas tayangan-tayangan yang disiarkan pun terkadang jauh dari nilai-nilai moral dan agama serta jauh dari nilai edukasi. Tayangan-tayangan kekerasan, hedonisme, kebebasan, hingga seksualitas sering ada dalam tayangan televisi yang tidak sesuai dengan anak dan remaja. Dampak kekerasan di dalam tayangan televisi akan berpengaruh terhadap sikap dan perilaku anak-anak dan remaja secara umum. KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dibentuk untuk melakukan pengawasan dan sanksi terhadap stasiun televise yang melanggar peraturan yang berlaku dalam bidang penyiaran.

 

 

Kata kunci: tayangan, televisi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

          Segala puji ke hadirat Allah SWT atas semua nikmat dan karunia-Nya  sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah akhir mata kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah yang berjudul “Peran KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) Terhadap Pengawasan Program Televisi Remaja” dengan baik. Makalah ini ditujukan untuk memenuhi syarat dalam mata kuliah Berfikir dan Menulis Ilmiah (KPM 200) pada Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Dr.Ir. Ekawati S. Wahyuni, Ibu

Ratri Virianita, S.Sos, M.Si, dan Kakak Siska Oktavia sebagai dosen dan asisten praktikum yang telah memberikan pengarahan dalam penyusunan makalah ini. Makalah ini juga tidak akan terselesaikan tanpa bantuan dari banyak pihak. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih atas bantuan yang telah diberikan kepada penulis. Semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk orang banyak.

 

 

 

                                                                                                            Bogor, Juni 2012

 

                                                                                                                        Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

                                                                                                Halaman

ABSTRAK…………………………………………………………………………………………………………..     i

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………….   iii

DAFTAR TABEL…………………………………………………………………………………………………   iv

DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………………………………….   iv

DAFTAR LAMPIRAN…………………………………………………………………………………………   iv

PENDAHULUAN

Latar Belakang…………………………………………………………………………………………..    1

Perumusan Masalah…………………………………………………………………………………….    1

Tujuan dan Manfaat……………………………………………………………………………………    1

PEMBAHASAN

Media Televisi dan Dampaknya……………………………………………………………………    2

KPI (Komisi Penyiaran Indonesi) dan Peranannya………………………………………….    5

SIMPULAN

Kesimpulan………………………………………………………………………………………………..    6

Saran…………………………………………………………………………………………………………   6

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………………………………    6

LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………………….    7

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

                                                                                                                                    Halaman

Tabel 1     Jumlah dan Persentase Responden                                                                      Berdasarkan Media Film yang Digunakan………………………………………………….  5

 

DAFTAR GAMBAR

 

                                                                                                                                    Halaman

 

Gambar 1 Perubahan dalam Tingkat Guncangan                                                                       emosi  yang Diukur   Setelah Menyaksikan  Tayangan                                   Kekerasan  Atau yang Tidak Melibatkan Kekerasan di Televisi……………………   4

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

                                                                                                                                    Halaman

 

Tabel 1  Frekuensi Menonton Sinetron Remaja Siswa SMUN 5 Bogor Tahun 2007………   8

Tabel 2 Motivasi khalayak langsung acara musik “Derings” Trans tv.……………………  8

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

 

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadikan semakin pesatnya media komunikasi terutama media pertelevisian. Perkembangan teknologi yang digunakan oleh para pihak stasiun televisi menjadikan masyarakat atau khalayak pemirsa mendapatkan informasi jauh lebih cepat dari sebelumnya. Televisi menjadi salah satu benda  penting yang hampir ada di setiap keluarga di dunia, khususnya di Indonesia saat ini. Pemirsa yang menonton pun tidak hanya terbatas pada orang dewasa melainkan remaja hingga balita. Program-program acara televisi yang disiarkan beberapa stasiun televisi pun kini sudah beragam, mulai dari acara berita sampai acara sinetron ftv[1] yang sangat digandrungi oleh remaja. Hal ini dapat dilihat dari frekuensi menonton sinetron remaja hasil penelitian[2] Daisiwan (2007:57) yang mendapatkan hasil dan menyimpulkan bahwa frekuensi menonton sinetron pada remaja terbilang dalam kategori sedang, yaitu antara sembilan sampai tujuh belas kali menonton sinetron remaja dalam kurun waktu satu minggu.

Berdasarkan teori komunikasi massa tentang fungsi komunikasi massa sebagai hiburan atau entertainment Wright (1959:16) dalam Severin dan Tankard (2001: 386), hal ini sangat terlihat sekali dari tayangan-tayangan hiburan pada stasiun televisi di Indonesia yang saat ini jauh lebih banyak dari sebelumnya. Hal ini perlu pengawasan dari pihak berwenang yaitu pemerintah, agar televisi tidak bertindak sepihak  dalam penyiaran program-program yang kurang bermanfaat ataupun bernilai negatif dari segi moral maupun Agama hanya karena ingin mengejar rating semata. Untuk itu penyiaran di Indonesia memiliki badan pengawas dari pemerintah yaitu KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sebagai pengawas yang bekerjasama dengan berbagai badan pemerintah maupun LSM masyarakat lainnya.

 

Rumusan Masalah

  1. Tayangan apa yang disajikan stasiun televisi untuk khalayak remaja?
  2. Bagaimana peran KPI dalam penayangan acara remaja?

 

Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah menganalisis bagaimana pengaruh televisi terhadap remaja serta peran KPI dalam pengawasan tayangan televisi dari stasiun-stasiun televisi di Indonesia. Dari tulisan ini diharapkan agar instansi terkait dapat melakukan kajian dan evaluasi untuk kinerja yang lebih baik lagi.

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Media Televisi dan Dampaknya

 

Media Televisi merupakan salah satu media komunikasi massa yang sangat mengalami kemajuan pesat. Hal ini terbukti dari jumlah stasiun televisi yang bertambah, seiring dengan perkembangan teknologi tersebut. Seperti termuat dalam buku “Teori Komunikasi” karya Severin dan Tankard (2001:3) yang menyebutkan bahwa jumlah televisi di Amerika Serikat berubah dari hanya lima stasiun (ABC, CBS, NBC, Fox, dan TV Publik) menjadi sistem kabel dengan 5 saluran dan bisa menjadi 500 atau lebih. Hal ini dipicu oleh berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi modern serta mulai ditetapkannya kebebasan pers pada masa reformasi yang pada masa orde baru masih belum diperbolehkan. Media televisi termasuk ke dalam salah satu media komunikasi massa. Dari perkembangan media televisi dan teknologi baru ini menurut (Mc Manus 1994) dalam Severin dan Tankard (2001:4) ada beberapa ciri lingkungan media baru, yaitu:

  1. Teknologi yang dahulu berbeda dan terpisah seperti percetakan dan penyiaran sekarang bergabung.
  2. Kita sedang bergeser dari kelangkaan media menuju media yang melimpah.
  3. Kita sedang mengalami pergeseran dari mengarah kepuasan massa audiens kolektif menuju kepuasan grup atau individu.
  4. Kita sedang mengalami pergeseran dari media satu arah kepada media interaktif.

Dari ciri-ciri di atas dapat disimpulkan bahwa teknologi yang berkembang pesat dan media televisi yang juga mengalami kemajuan pesat yang sama, membuat masyarakat saat ini mendapatkan informasi lebih cepat dari sebelumnya. Karena hal ini pula, membuat pihak stasiun televisi menyajikan tayangan-tayangan televisi yang lebih beragam. Namun terkadang pihak stasiun televisi kurang mementingkan kualitas tayangan-tayangan mereka dari segi moral dan pendidikan, melainkan hanya mengejar rating untuk mendapatkan iklan-iklan sebagai pendapatannya. Hal ini dapat dilihat dari pendapat seorang pakar sosial dalam bukunya “Etika Komunikasi” yang isinya sebagai berikut:

 

“…Kecepatan memperoleh berita belum cukup untuk menjamin posisi     keberlangsungan suatu media. Agar tidak ditinggal oleh konsumen, maka media harus selalu mampu mempertegas kekhasannya dan memberi presentasi menarik. Tuntutan ini menyeret masuk ke kecenderungan menampilkan yang spektakuler dan sensasional. …” Haryatmoko (2007:10).

 

Fungsi media itu sendiri menurut Lasswell (1948, 1960) dalam Severin dan Tankard (2001: 386) mencatat ada 3 fungsi media massa: Pengamatan lingkungan, kolerasi bagian-bagian dalam masyarakat untuk merespons lingkungan, dan penyampaian warisan masyarakat dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain dari tiga fungsi ini, Wright (1959:16) dalam Severin dan Tankard (2001: 386) menambahkan fungsi keempat, yaitu hiburan. Jika dilihat dari fungsi-fungsi tersebut, media komunikasi terutama televisi saat ini lebih cenderung berfungsi sebagai hiburan. Hal ini dapat dilihat dari artikel AGB Nielsen Media Research (2009) dalam AGBnielsen newsletter yang menyatakan bahwa pemirsa TV di Indonesia keranjingan tayangan hiburan dengan jam menonton program selama bulan Mei (1-24 Mei 2009) naik 17%. Selain data tersebut, ada data lain hasil penelitian Permata (2010:38) yang menyatakan berdasarkan tabel[3] bahwa dapat dilihat motivasi yang paling dominan dibandingkan motivasi-motivasi lain dalam menonton acara televisi[4] yang dirasakan responden adalah motivasi hiburan dengan persentase 100.

Dengan media televisi yang bergeser fungsi dari pendidikan menuju hiburan, serta tayangan-tayangan yang kadang kurang mendidik, maka diperlukanlah sebuah peraturan tentang pers yang sudah ada dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3887) dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 139, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4252) serta undang-undang lain yang terdapat dalam Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia tentang Pedoman Perilaku Penyiaran(KPI 2012).

Ada banyak teori dan model yang membahas mengenai dampak media terhadap masyarakat, yaitu teori peluru (jarum suntik), model dampak terbatas, model dampak yang kuat, teori kultivasi dan teori-teori yang lain yang secara ringkas dijelaskan dalam buku “teori kumunikasi” Severin dan Tankard (2001:313). Dampak yang sering membuat khawatir sebenarnya adalah dampak tayangan kekerasan yang sering ditayangkan di televisi. Analisis isi menunjukkan bahwa televisi menghidangkan menu tayangan kekerasan yang banyak sekali. Serangkaian angka menunjukkan bahwa menjelang usia 12 tahun, rata-rata anak telah akan menyaksikan 101.000 episode kekerasan di televisi, termasuk 13.400 kematian Stanfield (1973) dalam Severin dan Tankard (2001:338). Severin dan Tankard juga menjelaskan dalam “Teori Komunikasi” sebagai berikut:

 

“… Salah satu yang paling jelas dari penelitian-penelitian ini adalaha eksperimen Llewellyn Thomas (1963). Penelitian ini menemukan bukti bahwa para subjek yang melihat segmen film keras (adegan perkelahian dengan senjata) mempunyai kemungkinan yang lebih besar untuk meningkatkan tingkat setrum listrik yang akan mereka berikan pada orang lain daripada subjek yang melihat segen film yang tidak melibatkan kekerasan (remaja yang terlibat dengan keterampilan). Penemuan ini mendukung hipotesis kehilangan kendali diri, karena jenis perilaku bermusuhan yang dilibatkan tidak sama dengan yang digambarkan dalam film …” (Werner&James 2001:339).

 

Hasil penelitian tersebut dapat dilihat dalam bentuk grafik pada gambar 1, yang penulis kutip dari buku “teori komunikasi massa” Werner&James (2001:340)

                            

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Data dari R.H. Walters dan E. Llewellyn Thomas, “Enhancement of Punitiveness by Visual and Audiovisual Displays”, Canadian Journal of Psychology 17 (1963): 244 255. Dalam Severin dan Tankard (2001: 340)

Gambar 1 Perubahan dalam Tingkat Guncangan emosi yang Diukur Setelah Menyaksikan       Tayangan Kekerasan Atau yang Tidak Melibatkan Kekerasan di Televisi.

Jika dilihat dari tabel di atas menunjukkan bahwa televisi sangat berpengaruh besar terhadap tindakan seseorang. Pada penelitian tersebut dituliskan yang menjadi responden adalah orang dewasa dan pemuda yang hasilnya adalah sangat terpengaruh dengan apa yang mereka tonton, kemudian bagaimana dengan seorang remaja yang labil dan cenderung mencontoh dengan apa yang mereka lihat. Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Apolo dan Ancok (2003) dalam Pinasthika (2010:55) menunjukkan hasil yang sama, “… mengenai agresivitas remaja yaitu terdapat hubungan yang nyata (p<0,05) antara intensitas menonton televisi  berisi kekerasan dengan kecenderungan agresivitas remaja. Responden yang melihat tayangan kekerasan lebih sering akan menirukan adegan tersebut …” Perilaku agresi itu sendiri menurut Baron Koeswara (1988) dalam Nando (2011) adalah “… tingkah laku yang ditunjukkan untuk melukai dan mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan datangnya tingkah laku tersebut …” Selain itu ada pendapat lain mengenai dampak dari tayangan televisi:

“… Kekuatan sinetron memang sering menciptakan imitasi di kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa, termasuk remaja. Perilaku para pemain sinetron tidak jarang menjadi panutan para ibu dan remaja putri. Mereka mengubah model rambut dan dandanannya seperti pemain sinetron. Mereka mengubah gaya hidupnya seperti kehidupan yang diceritakan dalam suatu sinetron …” Yuritsa (2011:54).

Inilah alasan penting mengapa tayangan televisi remaja harus di awasi dan disanksi tegas oleh lembaga pemerintah yang bersangkutan dalam hal ini adalah KPI.

 

KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan Peranannya

 

Dalam rangka mengawasi penyiaran untuk melindungi masyarakat (khalayak pemirsa televisi) KPI didirikan sebagai lembaga negara yang mengatur tentang penyiaran di Indonesia. Dan b rdasakan pada Undang-undang yang berkaitan dengan penyiaran maupun perlindungan tehadap masyarakat. Seperti tertera dalam “Dasar Pembentukkan KPI” berikut ini:

 

“… Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002 merupakan dasar utama bagi pembentukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Semangatnya adalah pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan …” KPI (2008)

 

Dalam menjalankan tugasnya KPI mengirmkan surat resmi mulai dari surat imbauan, surat peringatan tegas, sampai sanksi yang diberikan kepada pihak stasiun televisi yang melanggar peraturan dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS Tahun 2009 dan 2012[Revisi]). Meskipun sudah dibuat peraturan, masih saja banyak stasiun televisi yang melanggar peraturan dengan menayangkan program acara yang tidak sesuai dengan standar program siaran. Terbukti masih banyaknya program acara yang masuk dalam daftar yang mendapatkan surat peringatan tegas pada situs KPI[5] hingga tahun 2012 ini.

KPI sendiri sudah mulai tegas dengan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh beberapa pihak stasiun televisi. Beberapa peraturan yang saat ini masih banyak dilanggar oleh beberapa stasiun televisi[6] adalah penayangan aksi kekerasan dalam bentuk nyata (tindakan) maupun dalam bentuk perkataan (makian dan cacian), tidak mencantumkan tanda huruf klasifikasi usia, hingga menampilkan unsur seksualitas.  Sedangkan dalam sebuah penelitian menunjukan bahwa sebagian besar remaja menonton film kekerasan dari televisi. Hasil penelitian tersebut disajikan dalam tabel 1. Berikut ini:

 

Tabel 1 Jumlah dan Persentase Responden Berdasarkan Media Film yang Digunakan

 

No.

Media Film yang Digunakan

Jumlah (n)

Persentase (%)

1

Televisi

44

97,8

2

DVD Player

39

86,7

3

Komputer/Laptop

9

20

4

Bioskop

10

22,2

5

Lainnya

1

2,2

Sumber: Nando (2011:44)

Karena itulah, peran KPI sangat penting dalam pengawasan tayangan televisi untuk melindungi anak-anak dan remaja bangsa agar tidak mendapatkan pengaruh dan dampak buruk dari televisi.

 

 

SIMPULAN

 

Kesimpulan

 

           Media televisi merupakan sebuah media yang sebenarnya dapat dimanfaatkan semaksimal dan sebaik mungkin untuk penyampaian pesan-pesan baik (Ceramah agama, dan pendidikan moral) serta untuk sarana pendidikan dalam rangka mencerdaskan generasi penerus bangsa. Namun karena persaingan yang ketat serta faktor pendapatan atau finansial perusahaan dalam bidang media itu sendiri, terkadang stasiun televisi memberikan tayangan yang bersifat menghibur saja, dan juga disisipi dengan tayangan-tayangan yang tidak sesuai dengan anak-anak maupun remaja. Karena ituah pemerintah membentuk suatu lembaga negara untuk pengawasan sekaligus pemberi sanksi untuk mengawasi tayangan-tayangan tersebut. KPI sendiri sangat berperan dan telah menjalankan peran dengan cukup baik selama ini. Hingga yang menjadi masalah adalah kesadaran orang tua untuk membimbing dan mengawasi anaknya dalam menonton tayangan televisi yang sesuai dengan usianya.

 

 

 

 

 

 

 

SARAN

Sebaiknya KPI maupun pihak terkait lainnya memberikan informasi maupun penyuluhan yang lebih (iklan tv, famplet, poster dan sebagainya) kepada masyarakat luas terutama anak-anak dan remaja terkait dengan sikap dalam menonton yang baik. Dan kepada orang tua agar selalu membimbing anaknya serta selalu lihatlah kategori umur pada layar televisi saat tayangan berlangsung apakah sesuai dengan usia anak-anak maupun remaja. Serta menontonlah secukupnya, jangan berlebihan karena di luar sana ada hal lain yang lebih bermanfaat daripada menonton televisi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

[KPI] Komisi Penyiaran Indonesia. 2008. Dasar Pembentukkan KPI. [Internet]. [diunduh 29 Mei 2012]. Dapat diunduh dari: http://www.kpi.go.id/tentang-kpi/kelembagaan/dasar-pembentukan. 2 hal.

 

[KPI] Komisi Penyiaran Indonesia. 2012. Pedoman Perilaku Penyiaran(P3) dan Standar Program Siaran(SPS). [Internet]. [diunduh 29 Mei 2012]. Dapat diunduh dari: http://kpi.go.id/download/regulasi/P3SPS_2012_Final.pdf. 89 hal.

 

AGB Nielsen Media Research. 2009 Mei. Pemirsa Haus Program Hiburan. [Internet].[diunduh 12 Mei 2012].AGBnielsen Newsletter. Dapat diunduh dari: http://www.agbnielsen.net/Uploads/Indonesia/AGBNielsenNewsletterMayInd09.pdf. 3 hal.

 

Daisiwan NL.2007. Hubungan Antara Tayangan Sinetron Remaja Dengan Sikap Konsumtif Remaja.[Skripsi].Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB. 128 hal.

 

Haryatmoko. 2007. Etika Komunikasi. Yogyakarta [ID]: Penerbit Kanisius. 180 hal.

 

Nando. 2011. Hubungan Antara Perilaku Menonton Film Kekerasan Dengan Perilaku Agresi Remaja.[Skripsi]. Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB. 78 hal.

 

Permata AI.2010. Motivasi Dan Opini Khalayak Langsung Acara Musik “Derings” Trans Tv.[Skripsi].Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB. 80 hal.

 

Pinasthika AWK.2010. Hubungan Minat, Motif Dan Pola Menonton Sinetron Di Televisi Dengan Perilaku Hedonis Remaja.[Skripsi]. Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB. 85 hal.

 

Severin WJ, Tankard JWJ.2001.Teori Komunikasi.Edisi 5.(Alih bahasa dari bahasa Inggris oleh Hariyanto S).Jakarta[ID]:Kencana Prenada Media Group.[Judul asli:Communication Theories].488 hal.

 

Yuritsa DCA . 2011.Persepsi Remaja Terhadap Unsur Kekeraasan Dalam Sinetron Di Televisi.[Skripsi]. Bogor [ID]: Departemen SKPM, FEMA, IPB.105 hal.

 

 

LAMPIRAN

 

Tabel 1  Frekuensi Menonton Sinetron Remaja Siswa SMUN 5 Bogor Tahun 2007

Kategori Frekuensi Menonton Sinetron Remaja (Perminggu)

Kelas X

Persentase (%)

Kelas XI

Persentase (%)

Total

Persentase

(%)

Tinggi

2

3

2

3

4

6

Sedang

15

25

15

25

30

50

Rendah

12

20

14

24

26

44

Total

29

48

31

52

60

100

Sumber: Daisiwan (2007:57)

 

 

 

Tabel 2 Motivasi khalayak langsung acara musik “Derings” Trans tv

Jenis Motivasi

Persentase (%) Motivasi

Rataan Skor*

Rendah

(Skor4-9)

Tinggi

(Skor10-16)

Motivasi Informasi

5

95,

3,28

Motivasi Identitas Pribadi

5

95

3,10

Motivasi Integritas dan identitas sosial

2,5

97,5

3,07

Motivasi  Hiburan

0,0

100

3,20

Motivasi Ekonomi

5

95

2,93

Ket: *1=sangat tidaksetuju, 2=Tidak setuju, 4=sangat setuju

Sumber: Permata (2010:38)

 


[1] FTV adalah singkatan dari Film Televisi yang berarti sebuah drama televisi yang langsung tamat (tidak berseri) dengan durasi tayang ±120 menit.

[2] Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel yang ditempatkan pada lampiran.

[3] Tabel ditempatkan dalam lampiran.

[4] Dalam hal ini skripsinya membahas terkait motivasi menonton Acara Musik “Derings” di Trans Tv.

[5]Situs dapat dibuka pada alamat URL http://www.kpi.go.id/.

[6] Berdasarkan beberapa daftar program yang mendapatkan peringatan pada situ resmi KPI.

Leave a Comment more...

OTAKU..!!

by on Feb.15, 2013, under Uncategorized

Assalamualaikum…, kumaha damang ?? Tos Lami teu katingali…, tos lami teu patepang…, teu karasa urang sadayana atos umuran sakiyeu…, hehehe apakah anda tidak mengerti??/. Oke kita ganti bahasanya…, Kali ini saya akan membahas tentang OTAKU… Apa itu oTAKU??? Apakah nama makanan?? itu Otak2.., bukan Otaku itu adalah sebutan bagi para penggemar kartun jepang yang sudah masuk dalam kasus akut alias bener-bener gila sama anime…, Kalo kita telisik lebih jauh di masa lampau…, dulu disaat umur saya sekitar 3 sampai 15 tahun…, yang namanya kartun itu banyak bangeet di TV dari mulai kartun jepang, Amerika, sampai kartun Indonesia…, tapi sekarang??? Apa yang mereka(TV) suguhkan?? sinetron dan kawan-kawanya…, acara musik dan kawan-kawannya…, inikah akhir dari kisah indah para otaku-otaku Indonesia…., dunia ini terasa hampa……. Alay gila…..

 

Leave a Comment more...

Surat ini khusus dari Sahabat

by on Oct.03, 2011, under Uncategorized

October 3rd 2011 in Uncategorized

Salam semangat pagii ….
Terimakasih buat semua surat yang kau tulis dan kau berikan pada kotak orange dipinggir jalan itu,, semua sudah sampai dipintu kamar kos.ku,, tapi maaf,, aku belum sempat menulis balasan untukmu.

Hari2 ini aku merasa sangat bersalah padamu. Aku terus menerima suratmu,, terus membacanya, tapi tak pernah sekalipun memberitahumu bahwa aku tak bisa menulis surat lagi sekarang,, tepatnya untukmu.
Teman,, aku tersanjung menikmati rangkaian nada akord yang kau padukan dengan petikan senar piano dalam suratmu,, kau tau ??? aku merasa senang karena kau begitu memperhatikanku,, sensasinya seperti jadi orang paling spesial dihatimu.
Ah,, aku sndiri bingung harus mengatakan apa padamu,
Tapiii ….
Tapiii …
Tapiii ..
Tapii .

Sudahlah,, kau pasti tidak senang jika aku mengungkit kebaikanmu,, sama seperti aku juga tidak nyaman ketika kau terus saja berceloteh mengagungkan aku sebagai pahlawan.
Tapii terimakasih untuk kerja kerasmu selama ini,, perlahan kulelehkan juga hatiku dan mengirimkan surat ini untukmu sebagai respon hormatiku padamju teman,,

Mengenai isi amplopmu yang terakhir,,
Sejujurnya aku ingin mengangguk untuk lamaranmu,, bertahun – tahun pernah kita bersama,, satu ranjang, satu atap, satu harapan… kau tau ??? aku benar tak kuasa untuk terus memejam mata,, pedih juga hati ini jika melihatmu bodoh dipinggir jalan.
Kau sudah berjasa sssuuuuuaaaanngggggaatttt besar untuk membantuku membentuk hati yang baru,, lagipula kau istri yang sangat taat,, suami macam apa aku ini jika tega memberikan talak tiga padamu ??
Lalu,, apakah aku harus datang pada pak pendeta untuk membawamu ke pelaminan ??? tidakkah kau lihat aku masih terlalu muda, lugu dan polos untuk menafkahimu teman ???
Aku juga ingin menyayangimu,, juga ingin terus memperhatikanmu, tapiii ….
Ini bukan jamanku lagi sayang .. biarkanlah aku menduda …
Kau tau dan hafal kan ??? aku sangat tak suka jadi pengecut,, pengecut itu orang yang sangat lemah. Dan aku tak mau terlihat lemah!!! Namun, untuk saat ini,, kulapangkan hati menyandang gelar orang lemah,, aku lebih suka seperti itu daripada menjadi penjahat tepat di depan hidungmu yang mancung nan merdu itu.
Aku sayang padamu,, tapi tak akan kubiarkan separuh hati ini pindah,,
Karena …..
Kau ..
Terlalu berharga untuk ku sakiti …

Ditulis oleh seseorang yang rindu akan kasih sayang
Dan membalas surat sahabat

Sumbeer : Luky

Leave a Comment more...

Hello world!

by on Oct.03, 2011, under Uncategorized

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

1 Comment more...

Looking for something?

Use the form below to search the site:

Still not finding what you're looking for? Drop a comment on a post or contact us so we can take care of it!

Blogroll

A few highly recommended websites...

Archives

All entries, chronologically...